Sholihuddin
Anggota Dewan Pakar / Penulis Tamu
Tentang Penulis
Kontak Resmi
Ringkasan Kontribusi
Timeline Aktivitas & Karya
Daftar pemikiran, hasil kajian, dan karya ilmiah terbitan Sholihuddin di portal resmi ISNU Kabupaten Kediri.
MEMBACA GUS DUR [7]
Individu dan masyarakat (sosial) menjadi bahasan menarik bagi Gus Dur. Dalam sejarah perkembangan Islam, katanya, terjalin dua sisi tersebut. Meski begitu, al-Qur’an tidak secara jelas membagi keduanya. Pemahaman kita lah yang jelas melakukan pembagian atas keduanya.
MEMBACA GUS DUR [6]
APA pendapat Gus Dur tentang sistem Islam? Jelas dan tegas, ia mengatakan tidak diwajibkan sebuah sistem Islam. Karena itu, tidak ada keharusan untuk mendirikan sebuah negara Islam.
MEMBACA GUS DUR [5]
“Istilah Islam Kaffah tidak hanya merupakan tindakan subversif gramatikal, tetapi juga pemaksaan istilah yang kebablasan.”
MEMBACA GUS DUR [4]
JUJUR, saya sangat menyukai catatan kaki yang ditulis Gus Dur. Cara mengemas dan mengupasnya sangat detail dan aduhai. Secara detail, dia menulis dengan urut, runtut dari A sampai Z. Aduhai? Tulisannya meliuk-liuk layaknya lagu Symphony 9, karya sang maestro, Ludwig van Beethoven, atau lagu-lagu penyanyi legendaris Mesir yang dijuluki kaukab al-syarq, Ummi Kaltsum yang jadi lagu favoritnya.
MEMBACA GUS DUR [3]
TIDAK tahu kenapa, dari sembilan buku Gus Dur (GD), saya terlena membaca Islamku, Islam Anda & Islam Kita. Pertama, hampir semua tulisannya dibuku ini, terutama yang sudah saya baca, memuat ketajaman alur berpikir yang luar biasa. Saya dibuat termehek-mehek dan mendadak berhenti sejenak untuk mencernanya. Kedua, cara menuangkan kalimat dalam setiap paragraf membuat saya terkagum. Dia mampu mengotak-atik kalimat demi kalimat dengan sangat baik, fokus dalam satu alur ide atau gagasan. Ketiga, referensi atau sumber bacaan yang digunakan sangat banyak. Buktinya, ada catatan kaki. Setiap catatan kaki, pasti diulas sangat cermat, tajam dan mendalam dengan referensi yang aduhai. Itulah kenapa saya sangat menyukai buku yang satu ini.
MEMBACA GUS DUR [2]
Islamku, Islam Kita & Islam Anda
MEMBACA GUS DUR [1]
APA yang dibaca dari Gus Dur (GD)? Tentu, tulisan dan pemikirannya. Tulisan hasil karyanya, bukan tulisan tentangnya. Di samping tulisan, juga pemikirannya. Banyak pemikiran atau gagasannya yang masih sangat relevan. Intinya, membaca GD adalah membaca tulisan dan menjelajahi pemikirannya.
SLAMETAN [2]
Slametan itu mengintegrasikan rasionalitas dan spiritualitas. Rasionalitas? Slametan berfungsi memperkuat hubungan sosial berupa gotong royong dan menjaga harmoni. Orang Jawa sangat menjunjung tinggi konsep rukun (keselarasan). Slametan menjadi cara untuk menjaga hubungan baik dengan tetangga dan komunitas, menghindari konflik, serta menenangkan situasi sosial.
SLAMETAN [1]
Kenapa orang Jawa suka slametan atau selamatan? Mereka ingin selamat, tenang dan selalu optimis dalam menjalani kehidupan. Buku Rahasia Otak Manusia Jawa karya dr. Arman Yurisaldi Saleh menjelaskan alasan itu. Slametan tidak hanya ritual keagamaan an sich, tapi ingin mengaktifkan bagian otak yang berhubungan dengan ketenangan dan optimisme. Dengan slametan, mereka ingin mengatasi ketidaktenangan serta memperkuat keyakinan akan terkabulnya doa. Singkatnya, slametan sebagai langkah penyelamatan diri.
Nidhomiyah Organisasi yang Berkelas Menurut McKinsey and Company
Nidhom berasal dari bahasa Arab yang berarti keorganisasian, tata aturan. Kalau ikut bahasa sekarang disebut tata kelola atau manajemen organisasi.
Kridha Lumahing Asta
tan becik menawa jalma amung kridha lumahing asta Menelusuri pepatah Jawa, saya diajak bertemu dengan kridha lumahing asta. Menurut dera.desa.id, kata kridha mempunyai arti gerak, gerakan, atau tindakan. Asta berarti tangan. Sedangkan lumahing terambil dari kata lumah atau mlumah yang artinya telentang. Jika digabung, pepatah ini berarti gerak atau gerakan menengadahkan tangan.
SAMUNDANA [2]
“parine dipangani den bagus” Dalam kehidupan sehari-hari, orang Jawa biasanya menularkan nilai-nilai hidup lewat sanepa. Pasemon atau sanepa adalah gaya bahasa dalam bahasa Jawa. Biasanya, kata ini digunakan melebih-lebihkan sesuatu, yang mempunyai arti sebaliknya. Sanepa bisa berarti sindiran halus. Siapa yang tahu persis makna sanepa? Penciptanya sendiri. Orang lain hanya menerka maknanya.
SAMUDANA [1]
Kulo nuwun Mangga Niku sinten? Kula Kula sinten? Kula nuwun Tidak banyak yang tahu, ungkapan populer di atas adalah lagu No Koes. Lagu pop Jawa berjudul Kulo Nuwun diciptakan Koes Bersaudara atau keluarga Koeswoyo. Mereka adalah John, Tonny, Yon, Yok dan Nomo. Koes Bersaudara adalah grup musik legendaris tahun 60-an asal Tuban. Mereka telah menciptakan 203 lagu dalam 17 album.
PNS
“Ora perlu padang, sing penting murup. “Ora perlu akeh, sing penting cukup”. Pasti, banyak yang menduga judul ini singkatan dari Pegawai Negeri Sipil, padahal bukan. Judul diatas merupakan sebuah lagu terbaru Didik Budi feat Tri Suaka. PNS, bagi Didik Budi adalah Pengangguran Nampak Sukses. Saya yakin, tujuan membuat judul ini agar mudah diingat. Ingat PNS, ingat lagu ini. Meski, jika dipanjangkan, arti dan maknanya beda.
‘Neng, Ning, Nung’ [2]*
Bagaimana contoh ketiga konsep dunung, wening dan meneng dalam kehidupan sehari-hari? Dunung, dalam budaya Jawa, sering disandingkan dengan konsep ojo dumeh. Konsep ini punya arti jangan merasa tinggi diri. Bisa juga berarti, jangan merasa paling tahu. Kita ambil contoh, dalam adat Jawa seperti kenduren atau slametan. Biasanya ada sesepuh yang memimpin doa, yang muda mendengarkan dan penuh hormat mengamini. Di sini, dunung berarti memahami tempat dan peran masing-masing. Juga, berarti menerapkan tata krama dalam berinteraksi dengan orang yang lebih tua. Mereka yang masih muda ngajeni (menghormati) yang tua.
‘Neng, Ning, Nung’ [1]
Orang Jawa itu kaya ungkapan penuh daya magis. Banyak ungkapan Jawa membuat kita ‘makjleb’ dibuatnya. Kata ‘neng’, ‘ning’, ‘nung’ adalah contohnya. Jika dipanjangkan, ‘neng’ berarti ‘meneng’. ‘Ning’ artinya ‘wening’, dan ‘nung’ berarti ‘dunung’. Azzura menyebut ‘nung’ dengan ‘hanung’. Lhaa, mana daya magis dan makjebnya? Teruskan bacanya!
Antropolinguistik [3]
Apa beda antropolinguistik dan etnolinguistik? Agak sulit membedakan keduanya. Kata pertama, fokus pada hubungan antara bahasa dan kebudayaan. Misalnya, mempelajari peranan bahasa atau cara seseorang berkomunikasi dengan orang lain yang budayanya berbeda. Bagi antropolinguistik, bahasa dan budaya suatu masyarakat selalu mengalami perkembangan. Kata kedua menitikberatkan pada unsur bahasa dan kebudayaan suatu suku bangsa. Jika masih dirasa kurang paham, sama, saya juga belum paham, haha. Coba kita perdalam lagi tentang arti etnolingustik. Kata ini, menurut Wikipedia.org merupakan ilmu yang mempelajari ciri dan tata bahasa berbagai suku bangsa dan persebarannya. Ilmu ini menelaah bahasa bukan hanya dari struktur semata,tapi lebih pada fungsi dan pemakaiannya dalam konteks situasi sosial budaya. Dari pengertian ini, setidaknya semakin menambah pemahaman. Jika masih atau tetap belum paham, saya sudah paham, hehe.
Antropolinguistik [2]
Apa itu antropolinguistik? Kata dari antropologi dan linguistik atau linguistic and anthropology dijadikan satu. Kata ini merupakan bidang ilmu interdisipliner yang mempelajari hubungan bahasa dengan seluk-beluk kehidupan manusia termasuk kebudayaan sebagai seluk-beluk inti kehidupan manusia. Juga, merupakan salah satu cabang disiplin ilmu linguistik yang mengkaji varian dan penggunaan bahasa yang berkaitan dengan adat-istiadat, pengaruh kebiasaan etnik, kepercayaan, pola-pola kebudayaan lain dari suatu suku bangsa perbedaan tempat komunikasi, sistem kekerabatan, perkembangan waktu, dan etika dalam penggunaan bahasa.
Antropolinguistik [1]
Mengapa memakai judul ini? Karena saya suka. Suka saja tidak cukup, saya kemudian mencari tahu tentang arti dan seluk beluk judul ini. Hampir satu bulan, saya berselancar ke sana kemari, mondar-mandir. Karena suka, tidak terasa, saya mendapatkan puluhan hampir ratusan sumber bacaan. Karena suka, saya ingin berbagi mengenai judul ini.
Kontemplasi [4]
Slogan terakhir adalah menanam untuk bangsa. Saya menduga, slogan terakhir ini bentuk aksi dari slogan pertama, dari kontemplasi menuju aksi. Kata dasar dari menanam adalah tanam. Tanam atau bertanam berupa kata kerja. Kata ini punya arti melakukan pekerjaan tanam-menanam. Kata melakukan berarti beraksi, bergerak dan juga berjalan. Menanam untuk bangsa setidaknya ISNU diharapkan ikut menanam dan merawat kebaikan untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Apakah seperti itu?
Kontemplasi [3]
APA makna slogan ketiga, merangkul umat? Ada dua kata, merangkul dan umat. Rangkul atau merangkul adalah melingkarkan lengan pada pundak (tubuh, pinggang, dan sebagainya). Merangkul juga mempunyai arti memepetkan badan pada badan, mendekap dan atau memeluk. Sedangkan kata umat mempunyai dua arti. Umat berarti para penganut (pemeluk, pengikut) suatu agama atau penganut nabi. Juga berarti makhluk manusia. Intinya, merangkul umat berarti merasakan kehadiran yang sangat dekat sesama manusia.
Kontemplasi [2]
DALAM jejak digital, kita dapat mengetahui siapa yang pertama kali mempopulerkan tagline ini. Kita temukan jejaknya dalam web travel.kompas.com. Dia adalah Ali Masykur Musa. Dalam sambutan pengukuhan pengurus pusat ISNU, sebagai ketua terpilih mengatakan, ISNU hadir menyapa semua, merangkul umat dan menanam untuk bangsa. ISNU bergerak dari ranah kontemplasi menuju aksi. Gagasan yang muncul harus segera diimplementasikan dalam bentuk aksi. Sarjana, ujar Cak Ali Masykur, semestinya memberikan sumbangsih untuk bangsa, mengupayakan terwujudnya kesejahteraan rakyat, dan juga kemakmuran bangsa.
Kontemplasi [1]
CATATAN kali tentang sebuah tagline. Bunyinya, “Dari kontemplasi menuju aksi, menyapa semua, merangkul umat dan menanam untuk bangsa. Tagline ini dikenal di kalangan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama [ISNU]. Tagline yang berarti slogan atau semboyan berguna memberikan semangat dalam setiap gerak dan langkah. Intinya, saya akan bahas tagline ini.
Bahasa & Budaya [9]
DALAM mengkaji bahasa dan budaya, kita menemukan keduanya saling terkait. Bahasa hadir, budaya juga hadir di sana. Keduanya hadir bersamaan. Keduanya saling tali-temali keberadaannya. Singkatnya, keduanya tidak dapat dipisahkan.
Bahasa & Budaya [8]
CATATAN kali ini mengkaji tentang pengertian budaya. Budaya merupakan kata benda. Dalam KBBI, budaya itu pikiran, akal budi, adat istiadat, sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang (beradab, maju), dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah. Dalam deepublishstore.com, budaya merupakan suatu gaya hidup yang berkembang dalam suatu kelompok atau masyarakat dan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya. Singkatnya, budaya merupakan tingkah laku manusia yang berlaku dari dulu sampai sekarang.
Bahasa & Budaya [7]
FERDINAND de Saussure membedakan tiga istilah terkait bahasa, yaitu langue, langage dan parole. Ketiga istilah ini tidak mudah dijelaskan. Saya mencari beberapa buku rujukan terkait ini, tapi tidak menemukan penjelasan yang jelas. Saya berkali-kali menemukan istilah ini dalam buku sosiolinguistik, tapi sekali lagi, tidak menemukan kejelasan. Apakah saya yang sulit membedakannya atau penjelasan yang berupa terjemahan memang sulit.
Bahasa & Budaya [6]
DI samping bersifat arbitrer,bahasa adalah kesepakatan atau konvensi. Gorys Keraf, Mudjia Rahardjo, dan Harimurti Kridalaksana secara berbeda mengartikan istilah ini, meski intinya sama. Keraf menyebut, makna sebuah kata tergantung dari konvensi (kesepakatan) masyarakat yang bersangkutan. Mudjia Rahardjo menyebut, bahasa berkembang berdasarkan suatu aturan yang disepakati oleh pemakainya. Sedangkan Harimurti Kridalaksana, bahasa itu disepakati oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerjasama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri. Singkatnya, arti dan makna bahasa tergantung kesepakatan siapa pemakainya. Itulah yang dimaksud konvensi.
BAHASA & BUDAYA [5]
SALAH satu pengertian bahasa adalah arbitrer, apa maksudnya? Bahasa itu manasuka atau suka-suka. Arbitrer merupakan kata sifat, yang dalam KBBI punyai dua arti; sewenang-sewenang dan manasuka. Kata manasuka juga mempunyai dua arti; sesuka hati dan dengan sukarela. Arti kata ini berkembang, dosen saya di UIN Maliki Malang, Mudjia Rahardjo menyebut, arbitrer itu berarti bahasa itu ucapan, bukan tulisan. Ucapan yang menggabungkan bunyi dan makna. Tidak ada kaitan antara keduanya. bunyi dan arti atau makna tidak saling berkaitan. Itulah arbitrer.
BAHASA & BUDAYA [4]
CATATAN kali mengulas tentang simbol bunyi. Gorys Keraf mengatakan, bahasa menggunakan simbol-simbol vokal atau bunyi ujaran. Simbol ini diperkuat dengan misalnya menggerakkan tubuh atau anggota badan. Simbol bunyi demikian, memberikan makna yang dicerap panca indera. Itulah simbol bunyi yang digunakan untuk berkomunikasi.
BAHASA & BUDAYA [3]
BAHASA adalah adalah alat komunikasi. Mulai catatan pertama sampai ketiga, saya masih mengupas ini. Komunikasi yang bagaimana? Abdul Chaer dan Leonie Agustina menyebut komunikasi itu berupa proses pertukaran informasi antarindividu melalui sistem simbol, tanda atau tingkah laku yang umum. Dalam proses komunikasi, terdapat dua atau lebih yang mempunyai peran berbeda. Pihak pertama sebagai pengirim informasi dan pihak kedua sebagai penerima. Adanya proses pertukaran informasi inilah yang dimaksud dengan hakekat bahasa sebagai alat komunikasi.
BAHASA & BUDAYA [2]
GORYS Keraf membagi 5 bagian pengertian bahasa. Kelima bagian itu adalah alat komunikasi, anggota masyarakat, simbol bunyi, alat ucap, dan arbitrer. Istilah bahasa merupakan alat komunikasi sudah sering kita tahu. Komunikasi yang bagaimana? Butuh penjelasan mendalam. Keraf menyebut komunikasi antar anggota masyarakat yang dilakukan dua orang atau lebih, itulah bahasa. Bahasa juga berupa simbol bunyi, alat ucap dan arbitrer. Singkatnya, kelima bagian akan coba saya jelaskan, agar pengertian bahasa dipahami, atau dengan penjelasan ini makin bingung. Hehe….
Bahasa dan Budaya [1]
APAKAH bunyi gendang, lukisan, atau gambar itu termasuk bahasa? Saya jawab tegas, tidak. Apakah bahasa itu bagian dari budaya atau kebudayaan? Saya tegas menjawab, ya. Bagaimana penjelasannya? Sabar woy, sabar. Singkatnya, ada pengertian tersendiri tentang bahasa dan budaya. Keduanya dijelaskan dengan contoh.
ISLAM [4]
SEKALI lagi, saya merasa penasaran dengan istilah humanisme. Saya cari lagi istilah tersebut. Tidak sulit menemukannya. KBBI menyedot perhatian saya dengan mengurai empat arti. Kali ini, saya nukil dua saja. Pertama, humanisme adalah aliran yang bertujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yang lebih baik, dan kedua, kemanusiaan. Penasaran saya sedikit terobati. Karena itu, jika suatu saat nanti ada yang mengatakan tentang istilah ini, maka yakinlah dipikiran saya tertuju pada kemanusiaan, titik.
ISLAM [3]
SAYA ingin mengganti judul di atas dengan agak keren atau menukik, humanisme Gus Dur. Kenapa? Karena saya ingin fokus menjelaskan sosok Gus Dur yang disebut berbagai kalangan sebagai tokoh humanis. Kenapa tidak diganti saja? Tidak. Karena catatan ini masih bersambung dengan kemarin. Agaknya, keren atau menukik tidak harus pada judul, tapi isi dan penyajian tulisannya.
Islam [2]
DUA penulis menguraikan tentang sosok Gus Dur dengan cara berbeda. Saya meyakini, tulisan dua penulis berdasar data. Mereka adalah Marzuki Wahid [MW] dan Nur Khalik Ridwan [NKR]. MW menulis tentang peta intelektualisme dan tema pokok pemikiran Gus Dur. Sedangkan NKR menulis sebuah buku berjudul, Ajaran-ajaran Gus Dur: Syarah 9 Nilai Utama Gus Dur. Kedua penulis ini ingin menyajikan sosok Gus Dur dari berbagai sumber terpercaya. Tulisan MW tersebut dimuat di web fahmina.or.id. Singkatnya, dari dua tulisan ini, kita semakin paham alur pemikiran Gus Dur.
ISLAM [1]
BAGAIMANA pandangan Gus Dur tentang Islam? Bagi Gus Dur, Islam harus dilihat dari tiga sudut pandang; saya, Anda dan kita. Ketiga bagian ini berbeda dalam memandang Islam. Saya, Anda dan kita berbeda pandangan. Perbedaan ini manusiawi dan harus disyukuri. Mensyukuri perbedaan pandangan harus dirayakan. Singkatnya, ketiga bagian itulah konsep Gus Dur dalam memandang Islam.
SAK MADYO*
Kandungan buku ini jika diringkas –merujuk pada judul buku— menjadi satu kata, taqwa. Kata ini umum didefinisikan sebagai menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya. Perintah dan larangan, menurut penulis buku ini, A. Musthofa Bisri atau Gus Mus, sangat banyak [hal. 33 & 39], baik bersifat individu ataupun sosial. Perintah individu seperti shalat, zakat, puasa dan haji. Juga, menepati janji, menyantuni anak yatim, menghormati tamu, misalnya adalah perintah lain berbingkai sosial kemasyarakatan. Begitu pula dengan larangan. Misalnya, larangan meninggalkan shalat, berbohong, tidak menepati janji, dan sebagainya. Singkatnya, taqwa berarti taat dan patuh pada yang diperintah dan dilarang.
Paragraf [5]
Pertanyaan bagian paragraf [4], bagaimana, agar kita bisa membuat paragraf yang utuh dan runtut? Sebelum menjawab, saya jelaskan tentang kerangka sederhana membuat paragraf. Kerangka ini saya ambil dari buku Prof Abdul Wahab. Misalnya, kita membuat sebuah paragraf dengan 5 kalimat. Rinciannya sebagai berikut: Kalimat 1: kalimat topik. Kalimat 2: kalimat pendukung 1 Kalimat 3: kalimat pendukung 2 Kalimat 4: kalimat pendukung 3 Kalimat 5: kalimat penyimpul atau kesimpulan.
Dalil-Dalil Agama Gus Dur
APA saja isi buku ini? Hanya satu, dalil. Itu saja? Ya. Mulai bagian pertama sampai terakhir menguraikan tentang dalil. Ahh, yang bener saja, kiai Nur Khalik Ridwan, penulis buku ini hanya membahas dalil? Iya, benar. Buku dengan tebal 378 halaman ini hanya berisi dalil. Masih saja tidak percaya, beli bukunya, haha. Yakinlah pada saya, bahwa isi buku ini tentang dalil.
Paragraf [4]
Secara teori, paragraf dikatakan baik jika memenuhi tiga unsur. Apa saja? Kalimat topik, kalimat-kalimat penunjang, dan kalimat penyimpul. Kalimat topik berisi gagasan utama dan batasan masalah. Kalimat penunjang berperan menjelaskan kalimat topik. Kalimat akhir biasanya berupa kalimat yang berisi kesimpulan dan juga berupa kalimat yang akan dilanjutkan di paragraf berikutnya. Kalimat topik dan kalimat penyimpul boleh berbeda, tapi intinya sama.
Paragraf [3]
“Contoh tulisan Prof Abdul Wahab mana mas? Ahad depan ya, insya Allah,” begitu saya mengakhiri tulisan bagian 2. Contoh tulisan paragraf yang ditulis Prof Abdul Wahab ini menginspirasi saya. Setidaknya, saya akan mencontoh cara membuat paragraf seperti beliau.
Paragraf [2]
cATATAN kali ini masih berkutat pada dua contoh paragraf. Paragraf pertama ditulis KH Abdurrahman Wahid [Gus Dur]. Sedang yang kedua ditulis dosen saya di Universitas Negeri Malang, Prof. Abdul Wahab. Gus Dur menulis dalam sebuah buku berjudul, Memelihara Umat, Kiai Pesantren – Kiai Langgar di Jawa, karya Pradjarta Dirdjosandjoto terbitan LKiS, 1999. Di buku ini, Gus Dur menulis kata pengantar. Sedangkan Prof Abdul Wahab menulis di buku karyanya, Menulis Karya Ilmiah. Buku ini ditulis bersama Lies Amin Lestari, terbitan Airlangga University Press, 1999. Singkatnya, dengan contoh paragraf ini, dapat menambah pengetahuan tentang paragraf.
Paragraf [1]
CATATAN kali ini saya ingin beri tentang contoh paragraf yang maut dan mantab, minimal menurut saya. Contoh paragraf ini saya temukan di banyak buku. Kali ini, saya nukilkan satu dulu. Saya ambil dari buku Falsafah Jawa karya Prof Sumardi Endraswara [2003, 1].
Sinergi [5]
SETELAH bagian keempat, ternyata banyak pembaca yang menunggu kelanjutan seri tulisan tentang sinergi. Kali ini, dibahas bagian ketiga, “Saya menyelidiki Anda.” Apa saja penjelasannya? Stephen R Covey mulai dengan ungkapan bernas. Ungkapan ini setidaknya mampu memberikan pemahaman tentang apa maksud dari “menyelidiki Anda”. Simak ya.
NU
TIDAK tahu kenapa, pikiran saya ingin sekali membuat catatan ringan tentang NU. Saya sangat tahu diri, bahwa saya tidak mempunyai keahlian tentang NU. Setidaknya, saya ingin membuat tentang NU yang saya baca, dan saya alami sebagai warga NU. Saya mencoba menjabarkan beberapa sudut pandang; jumlah warganya, sistem organisasi, sosial budaya, politik kebangsaan dan dakwah kekinian. Kelima perspektif ini bagi saya sangat penting untuk melihat NU ke depan.
Santri Gus Dur
SETIDAKNYA, tulisan ini ingin melihat dua sisi santri. Sisi pertama, santri melakoni kehidupan di pesantren dengan humor, santai, bahkan cenderung tidak memikirkan dunia. Mereka mengikuti kegiatan pondok dengan tanpa beban. Waktunya ngaji, ikut. Waktunya ngopi, antri duluan. Sisi kedua, mereka memandang kehidupan di pesantren sebagai bekal hidupnya di kemudian hari. Mereka hidup dengan serius. Biasanya, mereka sudah dipersiapkan orang tuanya menjadi penerus kelak. Meski ada dua sisi, tapi terkadang dua sisi ini bercampur menjadi satu dalam diri santri; hobi ngopi danmahir baca kitab.
Sinergi [4]
MENGAPA “Saya melihat Anda” dijadikan Covey sebagai paradigma kedua? Karena paradigma ini membahas karakter atau kepribadian seseorang. Karakter yang bagaimana? Karakter yang dimiliki seseorang dalam melihat orang lain. Maksudnya? Saya dan Anda adalah manusia bukan benda. Oleh karena itu, paradigma ini ingin mengatakan pada kita bahwa setiap manusia itu punya potensi. Jangan disamakan dengan benda mati. Itulah kenapa, “Saya melihat Anda atau I see you dipakai Covey untuk menjelaskan pentingnya sinergi.
Sinergi [3]
PADA bagian ini, Covey membahas tentang paradigma sinergi. Dia ingin mengubah pola pikir dari 2 menjadi 3 alternatif pilihan. Dia membuat kalimat bernas, “semakin kurang kita membentengi diri, semakin besar peluang kita untuk meraih sinergi.” Karenanya, dia bilang, “Saya bersinergi dengan Anda” atau I synergize with you. Dia kemudian membagi paradigma sinergi menjadi 3, yaitu “Saya melihat diri saya,” “Saya melihat Anda,” dan “Saya menyelidiki Anda.” Mengubah paradigma ini memang tidak mudah. Dia ingin menyampaikan, semua tergantung pada kita bukan saya.
Sinergi [1]
SAYA menemukan kata sinergi di dua buku karya Stephen R. Covey. Buku pertama, The Leader in Me. Buku kedua, The 3rd Alternatives yang lumayan tebal, 565 halaman. Buku pertama hanya 294 halaman. Bedanya lagi? Buku pertama hanya sedikit membahas sinergi, sedang buku kedua mengupas tuntas. Menemukan dan mengetahui isinya buku ini, membuat saya tercerahkan.
Framing [2]
APA sebenarnya framing? Pembingkaian. Itu jawaban saya pada bagian pertama tulisan ini. Kata lain dari pembingkaian? Buka dong KBBI. Di sana terdapat kata; penekanan, penajaman, pendalaman, penegasan, pengutamaan, dan penitikberatan. Hemat saya, framing adalah penonjolon atau penseleksian. Itulah arti framing.
Framing [1]
TIDAK tahu kenapa, dalam beberapa hari ini, arahan mata saya tertuju pada kata frame. Apa itu frame? Apa bedanya dengan framing dan reframing? Bagaimana mengidentifikasi kata ini dalam konteks sekarang? Bagaimana konsep dan tekniknya? Sederet pertanyaan yang menanti jawaban. Setidaknya, kalau terjawab, arahan mata saya tidak tertuju kemana-mana.
Pemimpin Jawa [3]
Pemimpin Jawa berpegang pada tiga pandangan. Pertama, politik sumur dan sungai. Kedua, prasaja dan manjeng ajur-ajer, dan ketiga, suket teki. Sumur merujuk pada sikap egois. Sungai sebaliknya, untuk kepentingan umum. Prasaja bermakna sederhana dalam bersikap. Manjeng ajur-ajer berarti hadir di tengah masyarakat. Suket teki itu kuat dan tidak mengenal putus asa. Pemimpin Indonesia pilih mana?
Pemimpin Jawa [2]
TERNYATA, dalam kepemimpinan Jawa terdapat ciri utama. Ciri ini membedakan dengan yang lain. Misalnya, kepemimpinan Jawa berpusat pada figur tunggal. Keberadaannya selalu dikaitkan dengan pulung atau keturunan [nunggak semi]. Ciri lain, kepemimpinan Jawa mengambil konsep dari 2 agama; Islam dan Hindu. Ciri-ciri tersebut merupakan tanda bahwa kepemimpinan Jawa secara khas berbeda dengan yang lain.
Pemimpin Jawa [1]
DI kolom ini, saya tidak ingin mengupas apa arti pemimpin dan kepemimpinan. Keduanya punya beragam arti. Tergantung siapa dan tujuan apa mendefinisikannya. Pakar manajemen dan ahli bidang lain tentu punya arti sendiri. Ada yang mengatakan, pemimpin adalah orang yang memimpin. Kepemimpinan adalah gaya, karakter atau cara memimpin. Jika diulas akan panjang dan berderet-deret. Itulah kenapa saya tidak ingin mengupasnya.
Nalar
SAYA bersyukur punya buku Nalar dan Naluri : 70 tahun Daoed Joesoef. Buku ini pemberian Dr J Kristiadi, peneliti senior CSIS. Dia juga memberi beberapa jurnal. Waktu itu, 15 Januari 1999, saya menemuinya karena mendapat tugas liputan tokoh di CSIS dan LIPI.Di LIPI, bertemu AS Hikam. Buku ini, masih tersimpan. Saya beruntung. Isinya inspiratif. Ditulis tokoh nasional, berupa bunga rampai. Ia menjadi bacaan wajib dalam mengasah nalar dan naluri.
Syahadat Bumi
“Ibu bumi wis maringi Ibu bumi dilarani Ibu bumi kang ngadili Laa ilaaha Illa Allah. Al-Malikul Haqqul Mubin. Muhammadur Rasulullah. Shadiqul Wa’dil Aamiin.”
Tahun Baru, Lagi
“Kawan, sudah tahun baru lagi Belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri Bercermin firman Tuhan, sebelum kita dihisab-Nya”
Rasa Bahasa [2]
Bahasa, bukan hanya kaidah kaku, tapi ada rasa di dalamnya. Setiap orang merasakan berbeda. Kita merasa nyaman dan saat lain merasa malas berbicara dengan orang lain. Nyaman dan malas adalah rasa. Itulah rasa bahasa.
Rasa Bahasa [1]
TANGGAL 29 Juni 2022,saya bergembira karena buku karya André Möller tiba. Buku tebal 354 halaman ini merayu untuk segera dilahap habis tak tersisa. Judulnya, Untung Gundul & 99 Kolom Bahasa Kompas Lainnya.
HAJI METAVERSE
MENGAPA ingin menunaikan ibadah haji? Karena ingin berkomunikasi dengan sang pencipta secara intens dan intensif. Intens berarti tekun, giat, gigih, juga semangat. Komunikasi intensif berarti tidak hanya semangat, tapi juga bersungguh-sungguh. Mengerahkan seluruh waktu, tenaga, biaya, pikiran dan perasaan.
Jawa [2]
POTRET kehidupan orang Jawa itu tercermin dalam peribahasa Jawa. Istilah dalam peribahasa dapat berbentuk perumpamaan, pepatah, semboyan, ibarat atau tamsil, dan bidal atau pameo. Isinya berupa aturan tingkah laku, nasihat atau prinsip kehidupan. Kata atau kalimat yang dipakai ringkas, padat dan berisi. Dengan peribahasa, orang Jawa menyimpan kekuatan. Jiwanya terjaga dan waspada dari hal-hal negatif.
JAWA [1]
APA yang dibahas ketika Jawa dikupas? Banyak hal. Tentang agama orang Jawa, filosofi hidupnya, bahasa Jawa, aksara Jawa atau dunia batin orang Jawa. Nah, banyak kan. Butuh waktu bahas semuanya.
Jumud
NASIHAT bijak berkata, hidup itu dinamis. Bergerak dan bergiat cepat, semangat, aktif dan mengalami perkembangan berarti. Mudah menyesuaikan diri dengan keadaan. Sekuat tenaga. Tenaga sekuat-kuatnya dipakai. Hidup dinamis berarti menggerakkan potensi dirinya mampu beradaptasi dengan zaman sekarang.
Kolega Intelektual Nahdliyin
Rekan sarjana dan dewan pakar lainnya di lingkungan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Kabupaten Kediri.