• 08533-699-8862
  • pcisnukabkediri@gmail.com
  • Mon – Fri: 8:00am – 7:00pm
PC ISNU Kab. Kediri PC ISNU Kab. Kediri
  • Beranda
  • Profil
    • Susunan Pengurus
    • Program Kerja
    • Tentang Kami
    • Visi Misi
  • Informasi
    • Seragam ISNU
    • Cara Menjadi Anggota ISNU
  • AHAD PAGI
  • Download File
  • KHAZANAH ISLAM
    • DUA SALING
    • Sikap Islam Terhadap Budaya
    • Kick Off
    • Amanat ?
    • Hijrah Berguru
    • Jangan Salah Semangat
    • Buku Muʼtamar ke-XXII Partai Nahdlatul ʼUlama
  • GALERI
    • Galeri Video
  • August 6, 2022
  • adminisnu
  • 0 Comments
  • 1703 Views
  • 6 Likes
  • CATATAN AHAD PAGI

Syahadat Bumi

“Ibu bumi wis maringi
Ibu bumi dilarani
Ibu bumi kang ngadili
Laa ilaaha Illa Allah. Al-Malikul Haqqul Mubin.
Muhammadur Rasulullah. Shadiqul Wa’dil Aamiin.”

Buku karya Irfan Afifi, Saya, Jawa, dan Islam dan tulisan Priskila Prima Hevina di satuharapan.com mengulas tembang ini. Judulnya, Ibu Bumi atau Syahadat Bumi. Syahadat adalah intisari ajaran. Syahadat berarti melakukan persaksian. Percaya dan mempercayai kebenaran. Syahadat bumi bermakna komitmen menjaganya agar tetap lestari.

Coba tanya diri sendiri, apa yang tidak diberi bumi? Ia memberi segala, semua hal, semuanya. Pemberian harus berbalas syukur. Syukur melawan kufur. Itulah makna, Ibu bumi wis maringi. Kata D’Masiv, “Syukuri apa yang ada. Hidup adalah anug’rah. Tetap jalani hidup ini. Melakukan yang terbaik.”

Bait “Ibu bumi dilarani atau ibu bumi disakiti” mengandung makna mendalam. Priskila Prima Hevina memaknai sebuah peringatan. Peringatan tentang apa? Tentu tentang ulah manusia. Manusia atau kita tidak boleh merusak bumi. Ia layaknya seorang ibu kita sendiri yang harus dirawat, dimulyakan, dihormati dan dicintai sepenuh hati. 

Merawat bumi harus dengan aturan. Kita tahu banyak aturan tentang larangan merusaknya. Terkadang, semua hanya aturan, miskin ketaatan dan kepatuhan. Alam dieksploitasi sedemikian rupa. Air, udara, hutan, danau, laut, mineral tambang emas, perak, nikel, batu bara dijarah tanpa batas.

Apakah melanggar aturan? Saya tidak tahu. Hanya saja, hati kecil saya berbisik. Bisikan tentang keserakahan. Bisikan tentang sifat berlebihan. Agama tidak mengajarkan sifat berlebihan pada hal apapun, termasuk eksploitasi alam. Tanggung akibatnya, “Ibu bumi kang ngadili  atau Ibu bumi yang mengadili. Maknanya, ibu bumi menentukan segala akibatnya.

Bagaimana cara merawat? Hadirkan cinta dalam berperilaku. Citayam Fashion Week (CFW) misalnya, boleh diteruskan. Tapi ingat, ada beragam realitas alam harus diperhatikan. Sampah berserakan dimana-mana. Gunakan area yang tidak menggangu orang lain. Menyuarakan aspirasi boleh. Ekspresikan dan yakinkan pada alam, kita serius merawat dan menjaganya. Lenggak-lenggoklah dengan tidak melupakan alam. Percuma kita bahagia, tapi  merenggut kebahagiaan liyan.  

Agaknya, puisi sang Clurit Emas, D Zawawi Imron ini cocok hadir menutup tulisan ini. Judulnya, Pesona itu melompat.

Pesona itu melompat

dari pematang ke pematang
(seperti kupu-kupu yang ditangkap
anak di taman
menabur serbuk-serbuk sanubari)
laut melambai
ketenteraman.

-Siapakah engkau?-
tanya roh kepada badan
badan pun lalu menari
sedang roh memukul gendang
sekaligus melagukan nyanyian.

Pesona itu melompat
dan terus melompat
melumat-lumat kenyataan.

Bagaimana menurut Anda?

Sholihuddin

Ketua PC ISNU Kabupaten Kediri

 

 

Tags:
ahadcatatanisnuisnu Kab Kedirinahdlatul Ulamapagi
Prev PostHijrah Berguru ke Yang Mengajak Hijrah
Next PostNalar
Related Posts
  • MEMBACA GUS DUR [7] January 25, 2025
  • MEMBACA GUS DUR [6] January 19, 2025

Leave a Comment Cancel Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

pcisnukabkediri@gmail.com Email
08533-699-8862 No. WA
Ngadirejo, Kota, Kota Kediri, East Java 64129 Kantor
Candradimuka Digital 2022 - All Rights Reserved.