Konsolidasi, sebuah Keharusan bagi NU (Renungan akhir tahun, 2024)
DALAM perjalanan panjangnya sebagai organisasi—satu abad lebih berdasarkan kalender Hijriyah dan menuju satu abad berdasarkan kalender Masehi—Nahdlatul Ulama (NU) telah melewati berbagai dinamika, baik internal, eksternal, maupun dalam hubungan organisasi ini dengan negara. Ketika NU tumbuh membesar, ia harus bergulat tidak saja dalam menjaga keutuhan organisasi, tetapi juga dalam menempatkan […]
MEMBACA GUS DUR [3]
TIDAK tahu kenapa, dari sembilan buku Gus Dur (GD), saya terlena membaca Islamku, Islam Anda & Islam Kita. Pertama, hampir semua tulisannya dibuku ini, terutama yang sudah saya baca, memuat ketajaman alur berpikir yang luar biasa. Saya dibuat termehek-mehek dan mendadak berhenti sejenak untuk mencernanya. Kedua, cara menuangkan kalimat dalam […]
MEMBACA GUS DUR [2]
Islamku, Islam Kita & Islam Anda Tahun 1995, saya menikmati ceramah Gus Dur (GD) di Lirboyo Kediri. Waktu itu, ketika saya masih nyantri di Kampung Inggris Pare, diajak seorang teman ke Lirboyo. “Ada Gus Dur di Lirboyo,” katanya. Melalui perantara ceramah itulah ‘perjumpaan’ saya yang kedua dengan GD. Apa isi […]
MEMBACA GUS DUR [1]
APA yang dibaca dari Gus Dur (GD)? Tentu, tulisan dan pemikirannya. Tulisan hasil karyanya, bukan tulisan tentangnya. Di samping tulisan, juga pemikirannya. Banyak pemikiran atau gagasannya yang masih sangat relevan. Intinya, membaca GD adalah membaca tulisan dan menjelajahi pemikirannya. Saya beruntung punya 9 buku karya GD. Saya masih terus hunting […]
SLAMETAN [2]
ing titimangsanewong Jawa kari separo Kenapa dalam acara slametan biasanya ada sajian ayam ingkung? Agus Sunyoto dalam buku Atlas Walisongo memberikan penjelasan. Menurutnya, kata ingkung diambil dari kata jinakung dan manekung yang berarti memanjatkan doa. Ayam ini berasal dari ayam tu-kung yang merupakan sesaji agama kapitayan yang berkembang jauh sebelum […]
SLAMETAN [1]
Kenapa orang Jawa suka slametan atau selamatan? Mereka ingin selamat, tenang dan selalu optimis dalam menjalani kehidupan. Buku Rahasia Otak Manusia Jawa karya dr. Arman Yurisaldi Saleh menjelaskan alasan itu. Slametan tidak hanya ritual keagamaan an sich, tapi ingin mengaktifkan bagian otak yang berhubungan dengan ketenangan dan optimisme. Dengan slametan, […]
SAMUDANA [2]
“parine dipangani den bagus” Dalam kehidupan sehari-hari, orang Jawa biasanya menularkan nilai-nilai hidup lewat sanepa. Pasemon atau sanepa adalah gaya bahasa dalam bahasa Jawa. Biasanya, kata ini digunakan melebih-lebihkan sesuatu, yang mempunyai arti sebaliknya. Sanepa bisa berarti sindiran halus. Siapa yang tahu persis makna sanepa? Penciptanya sendiri. Orang lain hanya […]
PNS
“Ora perlu padang, sing penting murup.“Ora perlu akeh, sing penting cukup”. Pasti, banyak yang menduga judul ini singkatan dari Pegawai Negeri Sipil, padahal bukan. Judul diatas merupakan sebuah lagu terbaru Didik Budi feat Tri Suaka. PNS, bagi Didik Budi adalah Pengangguran Nampak Sukses. Saya yakin, tujuan membuat judul ini agar […]
‘Neng, Ning, Nung’ [2]*
Bagaimana contoh ketiga konsep dunung, wening dan meneng dalam kehidupan sehari-hari? Dunung, dalam budaya Jawa, sering disandingkan dengan konsep ojo dumeh. Konsep ini punya arti jangan merasa tinggi diri. Bisa juga berarti, jangan merasa paling tahu. Kita ambil contoh, dalam adat Jawa seperti kenduren atau slametan. Biasanya ada sesepuh yang […]
‘Neng, Ning, Nung’ [1]
Orang Jawa itu kaya ungkapan penuh daya magis. Banyak ungkapan Jawa membuat kita ‘makjleb’ dibuatnya. Kata ‘neng’, ‘ning’, ‘nung’ adalah contohnya. Jika dipanjangkan, ‘neng’ berarti ‘meneng’. ‘Ning’ artinya ‘wening’, dan ‘nung’ berarti ‘dunung’. Azzura menyebut ‘nung’ dengan ‘hanung’. Lhaa, mana daya magis dan makjebnya? Teruskan bacanya! Kita bahas kata ‘dunung’. […]








